Selasa, 15 Mei 2012

AKU BAGAIKAN SIPUT NABI NUH



            Aku kok bisa seperti ini? Aku kok bisa lulus kuliah S1 Akuntansi UNY ya? Aku kok bisa melanjutkan S2 di UGM ya? Aku kok bisa menulis artikel ini dan 20-an artikel yang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu juga sering ditanyakan orang lain. Kok bisa ya? Padahal orangnya seperti itu. Nulisnya lambat, Buyuten, Gregeli. Saya aja heran, apalagi anda? Hanya KuasaNya yang Maha Dhasyat yang mengatur kehidupan ini yang membuatku seperti ini. Jika saya yang diciptakan oleh Allah dengan mempunyai keterbatasan, maka saya yakin anda lebih bisa daripada saya. Sahabat baik saya yang bernama Wulan berkata kepada saya bahwa ada sebuah kisah siput nabi Nuh yang berjalan dengan sangat lambat tetapi dia tidak pernah menyerah dan putus asa sehingga pada akhirnya sampai ke bahtera dengan selamat. Dia memotivasi saya supaya tetap semangat didalam meraih cita-cita saya karena semua manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang sudah dianugerahkan. Jadi kita harus tetap menjalani kehidupan ini dengan kebaikan karena umur paling lama hanya 1 abad.   
Kemarin belum lama saya ketemu dengan guru bahasa Indonesia saya semasa SMP, bu Anis namanya pada waktu mengurus pembuatan e-KTP di kantor kecamatan Wonosari. Beliau masih teringat dengan wajah dan stale khas saya. Pertanyaan pertama yang terucap dari bibir beliau adalah mas, bagaimana kabarnya dan sekarang lanjut dimana? Saya menjawab seperti jawaban pada umumnya yaitu Alhamdulillah kabar baik dan saya melanjutkan di akuntansi UNY. Lalu beliau bertanya lagi: kuliahnya semester berapa? Saya menjawab: Alhamdulillah sudah selesai. Beliau terbengong, lalu beliau mengucapkan Alhamdulillah mas, kamu bisa lulus 4 tahun, padahal belum tentu teman-temanmu sudah lulus juga. Saya terus menceritakan kepada beliau: saya juga tak menyangka bu bahwa Allah begitu sayang kepada saya. Padahal jika dilogika kemungkinan saya tidak bisa mengikuti kuliah karena ujian dalam perkuliahan itu disuruh menulis jawaban didalam kertas polio bolak-balik dalam waktu 1,5 jam. Bagaimana dibayangkan pada waktu saya SMP, ibu mengetahuinya kan bahwa saya sangat lambat dalam menulis. Tapi bu, kadang saya malah selesainya lebih cepat daripada teman-teman saya yang lain. Sewaktu kuliah saya juga jarang mencatat catatan yang diberikan oleh dosen karena ya selalu ketinggalan jika mau mulai mencatat catatan. Saya kalau dibilang pintar juga tidak, cerdas apalagi, jenius soyomeneh. Kata orang-orang, saya itu hanya tekun dan rajin. Memang kayaknya seperti itu, saya senang dengan membaca. Apalagi kalau mau ujian, seminggu sebelum ujian saya sudah harus khatam. Padahal kadang masuk ke otak, kadang juga tidak. Beliau lalu bilang kepada anaknya yang masih berumur 7 tahun: dik, ini mas-nya walaupun sakit tapi sudah lulus sarjana dalam waktu 4 tahun dan nilainya bagus-bagus, kamu harus bisa seperti masnya. Lalu anaknya bertanya kepada ibunya: lha sakit apa masnya, bu? Ibunya hanya diam, mungkin beliau tidak enak kepada saya. Istilah sakit juga sering disebutkan kondektur bis, dia pada waktu saya mau turun bis sering teriak: awas-awas orang sakit, pelan-pelan aja. Padahal dibis juga banyak penumpang dan mereka terus melihat kearah saya. Itu saja tidak dalam artian kasar tapi ya dalam hati saya malu, masih muda kok sudah huyak-huyuk (kurang seimbang), gimana kalau sudah tua dan apa yang nantinya yang bisa saya lakukan? Wallahu Alam, hanya Allah-lah yang mengetahuinya karena Allah yang memilikiku. Siapa tahu saya malah semakin sehat dan kuat (Amin Ya Robbal Alamin), dan wajib saya bersyukur kepada Allah.
Ada teman saya SD malah bicaranya sangat kasar. Dia bilang: Hey...anak cacat, kamu tuh tidak pantas sekolah di sekolah favourite seperti ini, kamu tuh pantasnya di SLB dengan teman-temanmu yang juga cacat kayak kamu itu loh. Hati siapa yang nggak sakit dibilang kayak gitu. Walaupun saya sakit bahkan punya keterbatasan, saya juga seorang manusia yang punya hati. Bahkan hati saya biasanya bisa lebih peka daripada yang lain karena ya mungkin punya keterbatasan. Mohon maaf saya tidak mau menggunakan kata cacat karena cacat itu tidak ada didalam Al Qur’an. Keyakinan saya adalah didunia ini Allah tidak melihat keterbatasan kita seperti ketidaksempurnaan fisik dan kekurangan harta, namun Allah mengganggap makhlukNya itu cacat jika makhlukNya tidak beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Sampai saat ini saya masih ingat perkataan teman SD saya karena akan saya jadikan bahan agar dapat membakar  semangatku menjadi semakin berkobar-kobar sehingga tidak akan pernah redup walaupun terkena hembusan angin kehidupan yang kencang ini. Padahal kalau kita mau melihat didalam Q.S. Al Hujurat ayat 11 dijelaskan bahwa “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah kamu memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. Selain itu didalam Q.S. Al Humazah ayat 1 disebutkan “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela”. Dua ayat diatas sudah jelas bahwa setiap manusia tidak boleh saling mencela satu sama lain. Padahal orang-orang yang mengejek saya itu pintar membaca Al Qur’an, tetapi mungkin tidak tahu isi kandungan yang ada didalam Al Qur’an. Belum lama ini saya ketemu dengan orang yang telah mengejek saya itu tepat didepan gedung Pascasarjana Magister Sains Akuntansi UGM, dia menyapa saya: Ris, apa kabar? Ngapain kamu ada disini? Saya menjawab: Hey mas, kabar saya Alhamdulillah baik, aku sekarang kuliah disini, mas. Dia berkata: S2, Ris? Saya menjawab: Alhamdulillah saya diterima disini tahun ini, lha kamu gimana? sudah semester berapa S2-nya? Dia menjawab: aku belum lulus S1, Ris, ini baru mengurus mau ujian skripsi. Saya berkata: Ya, semoga lancar ya mas. Dia berkata: Ya, Ris, makasih ya, semangat Ris. Saya berkata: Ya mas, saling doa mendoakan ya. Walaupun saya masih ingat betul perkataan yang dia ucapkan kepada saya diwaktu SD tetapi saya masih tetap menjaga hubungan baik dengan dia karena memutus silaturahmi itu adalah perbuatan dosa. Namun mengapa saya kalau disuruh melupakan kejadian semasa SD belum bisa ya? Ada sahabat saya berkata: seperti paku yang sudah menancap di kayu, apakah jika paku itu dicabut dari kayu, tidak akan meninggalkan bekas, pasti kayu itu ada bekasnya, sama halnya dengan hati. Jadi menurut saya jika hati sudah terlanjur terluka maka sulit untuk mengobatinya, tetapi kita juga tidak boleh merasa dendam kepada orang yang telah menyakiti kita. Mario Teguh berkata: serahkanlah orang itu kepada Allah karena Allah-lah yang akan menyadarkan dia menjadi lebih baik dengan cara Allah sendiri. Janganlah kamu membalas perbuatan jahat orang lain karena hanya akan menimbulkan pertengkaran dan rasa dendam. Saya menyerahkan kepada Allah semua perbuatan tercela yang dilakukan orang kepada diri saya agar nantinya dia sadar dan menjadi hamba yang semakin baik. Saya tidak tahu apakah dia masih ingat dengan perkataan yang pernah dia ucapkan kepada saya semasa SD, atau tidak. Bagaimana perasaan dia jika ingat apa yang dikatakannya sewaktu SD yang menganggap dia paling hebat, dan selang 15 tahun dia ketemu saya tepat didepan gedung kuliah S2 saya dan dia sendiri belum lulus S1-nya. Kuasa Allah-lah peristiwa itu terjadi dan menunjukkan janji Allah dalam firman-Nya diatas, janganlah saling mengejek sesama hamba apalagi menghina dan mencela. 
 Perjalanan saya dari kecil hingga sekarang dibilang cukup berliku, mungkin tidak seperti anak-anak yang lain. Saya anak pertama dari pasangan Sumaryono, M.Si. dan Dwi Ismiyati, MM yang menikah pada tanggal 28 April 1985. Sepasang manusia menikah dengan tujuan memperoleh keturunan, tapi sayang pasangan ini harus bersusah payah dalam merealisasikan tujuannya. Berobat ke belakang Malioboro yaitu dokter spesialis kandungan Broto, dijalaninya (sehingga nama belakang saya Bharata). Setelah menunggu tiga tahun dengan berusaha dan senantiasa berdoa mendekatkan diri kepada-Nya, akhirnya Allah memberinya momongan. Tepat tanggal 30 April 1988, lahirlah seorang bayi mungil dengan berat 2,8 kg di Rumah Bersalin “Kasih Ibu” dengan pertolongan bidan Warti. Bayi itu keluar dari rahim ibunya dengan tidak ditandai merduan tangisan. Lumuran darah yang menyelimuti bayi itu dibersihkan dengan mandian alkohol, seketika itu bayi mungil bernyanyi dengan merdu dan kencang. Bahagianya kedua orang tuanya. Jari tangan kaki dihitung pas genap 5, yang lain diperhatikan sempurna. Alhamdulillah sujud syukur dipanjatkan. Dengan berjalannya waktu, saya sempat terkena plek sehingga harus mengkonsumsi obat selama 2 tahun. Saya baru bisa berjalan pada usia 2 tahun, itupun sehabis diterapi terlebih dahulu. Setelah diterapi saya bisa berjalan. Diusia TK saya berjalan jinjit. Tetapi masih bisa sekolah di TK Dharma Bhakti dalam asuhan bu Kartinem. Lulus dari TK selama 3 tahun, akhirnya diterima di SD Wonosari V. Sewaktu SD saya sering diejek teman saya karena orangnya bodoh, nulisnya lambat, huyak-huyuk. Kata guru SD, saya itu bodoh karena nulisnya lambat sehingga untuk ujian dan menulis catatan tidak pernah rampung. Berawal dari situ dan jalannya yang gruyah-gruyuh, orang tuaku membawaku ke dokter anak Nartini di Basen. Oleh dokter itu dirujuk ke fisioterapi bu Rais Bulaksumur UGM. Selama hampir 18 tahun saya selalu menjalankan fisioterapi. Kondisi waktu itu tidak seperti sekarang ini. Setiap habis kantor, orang tuaku selalu mengajakku fisioterapi dengan naik bis. Hujan panas tidak membuat kami mengeluh. Orang tuaku masih tetap sayang kepadaku. Alhamdulillah saya diberi orang tua yang sangat luar biasa. Padahal saya hanya anak tunggal. Coba apa yang bisa dibanggakan dari anaknya. Tetapi orang tuaku tidak pernah sekalipun mengeluh. Walaupun harus susah payah dan telaten. Terkadang fisioterapinya kemalaman sehingga bis sudah tidak ada dan terpaksa naik motor atau mencegat mobil-mobil yang mau kewonosari. Dulu situasinya belum banyak mobil seperti sekarang ini. Pak nderek numpang dumugi wonosari. Jaketpun lupa tidak bawa. Malah pada waktu itu mama pas memakai rok pendek dan harus begagah. Waktu terus berjalan, Allah memberikan sebuah mobil Suzuki Carry tahun 80-an. Alhamdulillah sudah tidak kehujanan dan kepanasan lagi, tidak desak-desakkan, dan tidak takut kemalaman lagi tapi ya agak boros, yang penting anakku bisa sehat seperti yang lain, itulah harapan kedua orang tuaku. Kesabaran dan pengorbanan yang besar sudah menjadi ujian bagi orang tuaku supaya ikhlas dalam menerima anugerah momongan dari Allah SWT.
Disaat SD disebabkan kompetensiku yang rendah, saya dipanggilkan guru les privat. Hampir setiap hari saya melakukan les sehingga bahkan waktu bermainpun hilang. Padahal anak seusia itu baru senang-senangnya bermain. Dengan bantuan guru les, bu Anik, bu Sum, bu Tres dan pak Tunjung  yang sangat sabar dalam mengajariku, akhirnya saya bisa sedikit demi sedikit menaikkan kompetensi saya, ya harus telaten kata bu Anik. Tidak hanya  itu saja, tetapi saya selalu ditanamkan oleh orang tua untuk selalu beribadah kepada Allah yang menciptakannya. Les membaca Al Qur’an dengan Almarhum pak Sardjono dan bu Sri, saya lakukan. Solat Dhuha dan Tahajut tidak ketinggalan untuk dikerjakan. Teman sedikit demi sedikit mulai ada yang mau bergaul dengan saya, Irwan sahabatku SD. Kelas 6 adalah kelas yang menentukan  sekolah mana yang akan menerima saya. Lespun semakin tekat, mungkin satu hari bisa dua kali. Guru saya pak Subi, pak Agung dan pak Pur tidak pernah istirahat menggenjot saya agar saya bisa mendapatkan sekolahan yang baik. Orang tua saya tidak henti-hentinya berdoa bahkan setiap saya ujian orang tuaku selalu berpuasa hingga saat ini. Akhirnya nilai eptanas murni tertulis 41,90. Terkejut dan terharu kita semua. Pintu gerbang SMP 1 Wonosari masih terbuka, walaupun dengan nilai ngepres, tetapi di SMP 1 Wonosari yang notabene paling favourite di Gunungkidul bisa dimasuki. Sujud syukur dipanjatkan. SMP 1 Wonosari persaingannya semakin ketat karena dari berbagai SD di kabupaten Gunungkidul. Sayapun jatuh diperingkat 38 dari 40 siswa kelas 1. Metode lamapun diterapkan supaya saya bisa meraih prestasi. Les diberbagai gurupun diikuti. Pak Samsudi matematika dan pak Danang bahasa inggris rela meluangkan waktunya untuk saya. Walaupun tidak langsung mak ndel, tetap disyukuri karena masih dalam lingkup aman artinya rata-rata. Nyatanya saya tidak pernah tinggal kelas. BTA (Baca Tulis Al Qur’an) asuhan pak Warjono dan pak Surono untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan supaya Allah selalu menyayangiku pun selalu saya ikuti. Perjalanan waktu kelas 3 sudah dimulai. Walaupun masih aman, tetapi rasa was-was itu ada. Empat guru les bekerja extra keras, pak Mandono, pak Sanyoto, pak Mardi dan bu Warsi. Lulus mbok...syukur Alhamdulillah dengan ketar-ketir nilai bahasa inggris dikisaran angka 5. Untung gerbang pendaftaran SMA 1 Wonosari masih dibuka oleh pak Mulyoto sehingga saya masih diizinkan untuk sekolah di sekolah favourite. SMA 1 Wonosari masih bisa dipegang walaupun sudah berada ditepian. Tapi yang penting masuk dulu dalam lingkungan SMA 1 Wonosari. Disitulah saya mulai meraih kesuksesan dengan berbagai prestasi diperingkat 10 besar. Dikelas 1 tidak lupa kerja keras pak Aris matematika, pak Imam akuntansi dan pak Taufik kimia. Teman sudah mulai banyak yang mendekati, Hendri dan Onygus sahabatku yang sejati. Jurusan IPA yang mana idaman mama supaya anaknya menjadi seorang dokter, terpaksa saya lepas karena peta kemampuan saya rumit. Maaf mama, saya tidak bisa memenuhi harapan mama untuk menjadi seorang dokter, semoga nantinya saya mendapatkan istri yang berprofesi sebagai seorang dokter dan yang paling penting mau menerimaku apa adanya, sholehah dan terbaik untukku dan orangtuaku. Seandainya saya dan isteri saya bukan seorang dokter, mudah-mudahan anak saya atau cucu mama yang menjadi dokter. Saya berdoa semoga saya dan anak keturunan saya termasuk orang-orang yang berilmu, penuh kebaikan dan senantiasa beramal sholeh sehingga bermanfaat bagi sesama. Amin Ya Robbal Alamin. Pada waktu pemilihan jurusan, bu Lasmi menyetujui saya masuk IPS walaupun beliau juga menyarankan saya untuk masuk IPA dengan alasan IPS itu banyak mencatatnya daripada IPA padahal nilai saya memenuhi untuk masuk IPA. Tetapi saya mempunyai keyakinan sendiri dan bakat saya ada di IPS. Masuk jurusan IPS yang agak mengecewakan mama pun dijalani. Disana saya ternyata berhasil menduduki posisi 3 besar, kekecewaan mama pun agak terobati. Di kelas 12, saya mulai agak aman tapi yang menjadi momok masih tetap bahasa inggris. Les privat bahkan pernah jam 12 malam tetap dijalani bersama pak Barnabas. Untuk menghindari hal yang terburuk yang akan terjadi jika tidak diantisipasi. Nilai bahasa inggrisnya pun jatuh dalam kisaran angka 6, tetap disyukuri dengan didukung yang lain yang masih tinggi. Dengan demikian, tiket ke perguruan tinggi masih bisa kepegang. Bu Lasmi dan bu Nasikah mengirimkan nilai rapot saya kepada lima perguruan tinggi dijogja. Alhamdulillah semua diterima tanpa tes yaitu UNY, UII, UPN, Sadar, dan Poltekes. Berdasarkan petunjuk ibu Lasmi, saya menjatuhkan diri di UNY. Coba kalau saya masuk IPA walaupun kemungkinan saya bisa mengikuti pelajarannya tapi mungkin saya tidak bisa meraih posisi 3 besar dan harus mengikuti ujian SPMB. Cita-cita saya sebenarnya berkeinginan kuliah di UGM. Try out –try out ujian masuk UGM, saya ikuti setiap minggu, bangun pukul 4 pagi, berangkat kejogja, pulang pukul 7 malam dan selama 3 bulan, tidak membuat saya lelah dan mengeluh. Seleksi PBS pun saya ikuti dan ujian UM UGM saya tempuh. Dengan harapan dapat kuliah di UGM, solat Hajat, solat Tahajut, dan solat Dhuha semakin sering dan giat. Walaupun usaha dan doa sudah saya lakukan tetapi Allah belum mengizinkan saya untuk menempuh kuliah S1 di UGM. Ternyata Allah telah menyiapkan Universitas yang terbaik untuk saya waktu itu yaitu UNY tanpa tes. Selama di UNY, pertama-tama saya masih diurutan 2 besar dengan IPK 3,81, tetapi manusia yang dikelilingi setan rasa angkuh itu ada. Allah tidak menghendaki saya tersesat dari jalan-Nya, maka saya diturunkan ketengah-tengah. Walaupun turun ditengah-tengah yaitu di bawah batas cumlout namun saya tidak pernah mengulang mata kuliah sehingga waktu luluspun tepat empat tahun pas. Disana saya sempat menjadi asisten dosen dan aktivis mahasiswa. Di semester awal saya berkecimpung didunia organisasi mahasiswa. Waktu pulangpun tak karuan, kadang sampai larut malam dan kadang harus menginap sehingga saya sakit tifus dan harus dirawat di RSUD Wonosari. Didunia organisasi, wawasanku bertambah dan kenalanku semakin banyak. Para aktivis saya dekati untuk mengetahui pandangan mereka tentang suatu hal. Karena terinspirasi dengan pak Mario Teguh, kadang saya kekampus memakai jas karena ya juga pas musim dingin. Di semester pertengahan, saya abdikan untuk membantu dosen. Mungkin hanya membantu mengumumkan pemberian tugas dan mengoreksi jawaban mahasiswa. Itu sudah membuat saya senang karena dapat membaur bersama dosen-dosen dan para aktivis. Ingat lagu Opick: Berkumpul dengan orang yang sholeh. Betapa bahagianya jika saya bisa seperti mereka, pak bu dosen, mudah-mudahan Allah meridho saya menjadi seorang dosen yang ilmunya dapat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan dalam hal kebaikan sehingga bisa mengobati kekecewaan mama, Amin Ya Robbal Alamin. Semua dosen di akuntansi UNY merupakan sosok yang selalu membantuku dalam perkuliahan karena didalam kuliah tidak ada guru les privat. Bu Indah setiap permasalahan ada solusinya dihadapan beliau. Bu Mimin seorang dosen yang membaur dengan kami. Bu Rini pembimbingku yang mengarahkanku dengan sabar. Bu Isroah yang mengajariku tentang arti kehidupan ini. Pak Mahendra yang menyempurnakan skripsiku menjadi sangat menarik.    Pak Sochih dan pak Pardiman yang selalu mengayomi dan memberikan petuah-petuahnya. Prof Rochmad Wahab, Prof Dardiri, dan Prof Aliyah yang mendoakanku agar cepat selesai, dan yang lain-lain yang tidak dapat saya sebutkan disini. Sahabatku tercinta Sigit dan Panji, dua orang yang menjadi Malaikat bagi saya sewaktu kuliah S1, membantuku dan berperan selayak saudara kandungku. Saya bisa seperti sekarang ini tidak terlepas dari yang pertama Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Kedua orang tuaku is the best dan yang ketiga peran dari orang-orang yang selalu membantuku diwaktu saya membutuhkan, menghiburku disaat aku bersedih, mendoakanku agar berhasil meraih mimpi, yang memberi cinta kasih dan sayangnya kepadaku dengan segenap ketulusan hati dan keikhlasan mereka.
Di pertengahan semester pendek, saya melaksanakan KKN di desa Sumberejo, Semin, Gunungkidul. Pandangan awal sebelum mengikuti KKN, saya merasa apa saya bisa ya. Tetapi ternyata saya diterima baik oleh teman-teman KKN (Budi, Ajar, Esti, Perdin, Ardiat, Ria, Ika, Dewi, dan Aya) dan segenap warga Pakel (pak Lurah, pak Carik, mbah Pantak, mas Yadi, dll). Dengan keterbatasan saya, tidak membuat program KKN menjadi jelek karena pandangan dulu kalau KKN ya kerja bakti buat jalan, mushola, gapura, dan yang berat-berat. Ternyata tidak seperti itu, tidak semua harus kerja fisik, tapi yang terpenting kerja otak. Masyarakat Pakel sangat baik, mereka tidak menuntut kepada kami yang aneh-aneh dan mengada-ada. Alhamdulillah berkat dukungan dari semua pihak, saya dapat menyelesaikan program KKN dengan baik dan mudah-mudahan masyarakat terkesan. Program saya memang tidak ada yang memerlukan kerja fisik, tetapi hanya kerja otak dan proses lobi yang baik. Mungkin saya mempunyai program yang lebih banyak daripada mereka karena untuk menutupi kekurangan saya. Program saya seperti bazar, pembentukan posyandu lansia, pembentukan perpustakaan, tabungan anak-anak, sosialisasi pembukuan di kelurahan, bakti sosial, dan berbagai program penyuluhan. Saya melakukan lobi-lobi keberbagai instansi pemerintahan dan akhirnya disetujui. Lobi ke Puskesmas, Kapedal, Dinas Pendidikan, Kantor Perpustakaan Daerah, Badan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan, Bawasda, dan Pasar. Alhamdulillah mereka membantuku dengan segenap keikhlasan dan ketulusan hati. Coba kalau memakai ongkos, sudah berapa yang harus saya keluarkan. Mereka rela dengan ikhlas meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu dalam menyukseskan program KKN saya. Jalinan silaturahmi itu sangat penting untuk menjaga hubungan baik kita dengan orang lain karena tidak semuanya bisa dibeli dengan uang dan kita didunia hidup dengan orang. Pengobatan keliling yang harusnya tidak berada di dusun tempat KKN, rela dipindahkan lagi kesitu, padahal bulan lalu sudah mengunjungi dusun itu. Dagangan pasar yang seharusnya dijual dipasar, rela saya angkut ke lokasi KKN untuk program Bazar. Pembicara penyuluhan yang harusnya libur tujuh belasan, rela datang untuk memenuhi undangan saya. Senam minggu pagi yang harusnya instruktur masih tidur, rela saya ajak kelokasi untuk mengajari senam. Kalau tidak dengan lobi yang bagus, mana mungkin mereka mau dengan ikhlas. Teman-temanku yang selalu  membantuku untuk menjalankan program KKN saya, tulus dalam berbuat. Antusiasme warga sangat tinggi untuk mendukung program-program KKN saya. Pengabdian kepada masyarakat itu penting agar kita dapat diterima menjadi anggota masyarakat itu dan mengaplikasikan ilmu yang telah kita dapatkan dibangku kuliah untuk kebaikan dan kesejahteraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.    
Tanggal 30 Juni 2011, saya mengikuti upacara yudisium di FISE UNY yang berarti saya pada hari itu resmi lulus menjadi sarjana S1 Akuntansi, FISE, UNY. Jadwal wisuda tanggal 10 September 2011, saya akhirnya diwisuda. Teman-teman saya sudah banyak yang kerja, sahabat saya tercinta Sigit bekerja di Alfamart Makasar dan Panji di Bank Semarang. Saya bingung akan kerja atau melanjutkan kuliah S2 atau kuliah PPA. Kalau kerja ya kerja apa? Orang tua saya mendukung apa yang akan saya putuskan. Setelah saya pertimbangkan secara matang dan solat Istiqarah maka saya berkeinginan untuk melanjutkan kuliah S2 karena saya berpikir bahwa pikiranku yang lebih penting daripada fisikku. Dengan diantarkan ayah, saya melihat-lihat universitas yang membuka S2 Akuntansi. Pada tanggal 2 Desember 2011, saya mencoba mendaftarkan diri untuk kuliah S2 Akuntansi di UGM. Tanggal 10 Desember 2011, saya mengikuti ujian AcEPT dan PAPS di Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Tanggal 29 Desember 2011, saya menempuh ujian tertulis dan wawancara di Fakultas Ekonomi dan  Bisnis UGM. Tes dimulai dari pukul 08.00 sampai pukul 16.30. Dalam tes wawancara dengan pak Prof Slamet Sugiri, saya diberi pertanyaan yang intinya kuliah S2 di UGM itu berat dan sulit, lalu saya menjawab bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan karena itu janji Allah dalam Al Qur’an. Dalam waktu tes tertulis, kondisi saya dalam keadaan pusing sekali, tetapi saya tetap fokus dalam mengerjakan. Awal Januari diumumkan hasil seleksi. Saya hanya yakin kalau itu ya ng terbaik untuk saya, Allah akan menunjukkan jalannya. Ternyata saya telpon ke bagian Admisi Magister Sains dan Doktor FEB UGM, saya diterima dengan syarat. Alhamdulillah akhirnya Allah mengizinkan saya kuliah di UGM walaupun dengan syarat. Saya diterima menjadi mahasiswa S2 Magister Sains Akuntansi FEB UGM dengan syarat selama 2 semester harus sudah memenuhi skor PAPS dan AcEPT. Waktu ini PAPS saya baru mendapat skor 467 padahal syarat minimal harus memenuhi skor 500 dan skor AcEPT saya baru 202 padahal syarat minimal harus mendapatkan skor 209. Setelah mendapat pengumuman itu, saya langsung menghubungi guru-guru les saya dulu untuk mengikuti les privat lagi yaitu matematika dan bahasa inggris. Saya mengikuti les matematika ke rumah bu Endang dan bahasa inggris ke rumah pak Barnabas. Selama satu bulan penuh saya harus mengikuti les matematika dan bahasa inggris setiap hari. Untung waktu itu belum masuk kuliah sehingga agak lebih santai dan fokus pada tes PAPS dan AcEPT. Setelah saya di bimbing dalam les matematika dan bahasa inggris, saya mencoba untuk mengikuti tes PAPS dan AcEPT lagi di Fakultas Filsafat. Selain mengikuti les privat, saya juga memperbanyak solat Dhuha, Hajat, dan Tahajut serta tidak lupa puasa senin kamis. Akhirnya tes PAPS berhasil meraih skor 533 namun tes AcEPT malah turun menjadi skor 181. Hal itu tetap disyukuri, mungkin Allah menyuruh saya untuk senang dan tekun dalam belajar bahasa inggris. Les matematika sudah saya hentikan tetapi les bahasa inggris terus saya ikuti. Tanggal 18 Februari 2012, saya menempuh tes AcEPT lagi, dengan hasil naik 1 menjadi 182. Tepat hari senin tanggal 20 Februari 2012, saya masuk kuliah pertama di MSc FEB UGM dengan mata kuliah Sistem Teknologi Informasi. Pada waktu itu semangat saya berkobar-kobar karena saya bisa kuliah S2 di UGM yang mana idaman saya sejak akan masuk S1. Ternyata Allah telah mengabulkan doa saya yang dulu yaitu ingin kuliah di UGM. Dulu Allah belum berkehendak saya kuliah S1 di UGM tetapi sudah dipersiapkan oleh Allah Universitas yang terbaik untuk saya yaitu UNY tanpa tes. Setelah saya cermati ternyata Allah menyuruh saya untuk beradaptasi terlebih dahulu dengan dunia perkuliahan atau kampus. Terbukti waktu saya masuk kuliah pertama S2 di UGM dengan semangat yang tinggi, tiba-tiba semangat saya langsung turun drastis, saya mau nangis, saya pusing sekali, pikiran saya sudahlah tidak akan melanjut lagi. Waktu pertama masuk disuguhi dengan artikel tebal berbahasa inggris dan buku paket sangat tebal juga berbahasa inggris. Kami ber-16 mahasiswa disuruh mereview artikel dan buku itu. Saya yang mempunyai kemampuan berbahasa inggris sangat kurang dan hampir tidak suka dengan bahasa inggris menjadi stress berat. Ba’da Maqrib kuliah perdana selesai, saya dijemput oleh orang tua. Diperjalanan saya curahkan unek-unek saya kepada orang tua. Untung orang tua saya sangat bijak, beliau memotivasi saya dengan panjang lebar, Alhamdulillah semangat saya dari drop, sedikit demi sedikit mulai beranjak naik. Terus saya mampir ke fotokopian untuk mengeprint semua artikel yang diberikan oleh dosen untuk materi kuliah selama satu semester. Keesokan harinya, saya mencoba untuk membaca artikel itu dengan dikelilingi kamus bahasa inggris. Saya berusaha mengerjakan sedikit demi sedikit, itu menimbulkan perasaan senang untuk membaca teks berbahasa inggris. Kuliah berikutnya ternyata sama menggunakan buku berbahasa inggris tetapi para dosen senantiasa memotivasi kami untuk bisa tetap bersemangat. Pak Sumiyana berkata: membaca artikel ini pertamanya mual-mual bahkan muntah-muntah tetapi lama kelamaan akan terbiasa dan kecanduan, kuncinya membaca artikel adalah baca dan terus baca. Pak Ertambang berkata: orang Indonesia itu cerdas-cerdas tidak kalah dengan orang luar negeri, yang penting membaca terus menerus. Pak Prof Abdul Halim berkata: kalian harus banyak membaca supaya harga kalian menjadi tinggi dan mahal dan harus lebih hebat daripada saya karena kalian masih muda. Pak Prof Zaki berkata: kalau membaca teks berbahasa inggris itu baca terus walaupun tidak tahu artinya, 1 kali belum paham 2 kali, jika belum paham lagi 3 kali 4 kali 5 kali dan seterusnya sampai kalian paham isi bacaan itu. Banyak lagi motivasi-motivasi dari beliau yang tidak bisa saya tuangkan kedalam artikel ini. Intinya dari keempat dosen itu adalah membaca dan terus membaca. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an yang turun pertama kali yaitu ‘Iqro’ yang artinya “Bacalah dengan nama Tuhanmu”. Mulai sekarang saya sudah agak terbiasa dengan bahasa inggris karena memang bahasa inggris adalah bahasa internasional. Dulunya saya sangat benci dengan bahasa inggris karena sulit bahkan lebih daripada matematika sehingga dari UNAS SMP saya mendapat nilai 5 dan UNAS SMA saya mendapat nilai 6. Sekarang saya disudutkan mau tidak mau, bisa tidak bisa, saya harus mempelajari dan menggunakan bahasa inggris. Tes AcEPT saya tempuh sebanyak 5 kali sehingga mengharuskan saya setiap bulannya mengikuti tes itu dan Alhamdulillah sekarang sudah mendapatkan skor 224. Hal itu tidaklah berakhir untuk mempelajari bahasa inggris karena referensi kuliah S2 semuanya memakai bahasa inggris. Mudah-mudahan dengan artikel ini dapat menjadi kunci awal saya untuk dapat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan ini dalam hal kebaikan karena jika fisik saya kemungkinan kurang bermanfaat disebabkan adanya keterbatasan, maka saya bercita-cita semoga pikiran saya dapat berguna dan bermanfaat bagi semuanya dalam hal kebaikan di kehidupan saya pribadi, masyarakat, bangsa, agama, dan alam ini. Amin Ya Robbal Alamin.                                            
Kehidupan ini untuk menjalankan kebaikan sehingga berguna dan bermanfaat bagi semuanya.Didunia ini tidak akan kekal sehingga harus diisi dengan baik agar tidak menyesal.
Allah berfirman didalam QS. Al Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Didalam Q.S. Ar. Ra’d ayat 11 juga disebutkan bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum. Sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. Dua ayat tersebut adalah motivasi terbesar dalam hidupku. Mungkin saya punya orang tua yang begitu sayang kepadaku tapi saya berpikir tidak mungkin orang tuaku antar jemputku setiap hari sehingga saya harus berani naik bis apapun resikonya. Mungkin sahabat-sahabatku bisa membantu menuliskan catatan atau meminjami catatannya tapi aku berpikir dalam ujian tidak mungkin sahabat-sahabatku mau menuliskan sehingga aku harus rajin dan tekun belajar supaya otakku terisi untuk bisa menjawab soal-soal dalam ujian agar waktu ujian saya tinggal menulisnya dikertas. Guru dan dosen saya walaupun sering membantuku dalam belajar, mana mungkin waktu ujian beliau akan bersedia membantuku. Itu semua menuntutku untuk berusaha mandiri, walaupun dengan keterbatasan. Nyatanya saya bisa merubah nasibku sendiri dan Allah meridhoi sekaligus membantuku dalam setiap langkahku. Coba kalau saja saya hanya menyesali dan mengantungkan hidupku ini kepada orang lain, mungkin saya malah semakin terburuk dan menjadi hamba yang merugi. Motivasi lagu Jangan Menyerah D’Masiv selalu ku ingat: Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukan kebesaran dan kuasanya bagi hambanya yang sabar dan tak pernah putus asa. Syair lagu itu memang benar dan saya mengalaminya dengan nyata. Kita diwajibkan untuk bersabar dalam menghadapi kehidupan ini. Tapi ya memang berat dan harus kuat.  Didalam Q.S. Ali Imran ayat 139 yang berbunyi “Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang beriman.” Berarti jelas dimata Allah, bukan kesempurnaan fisik, bukan tingkat jabatan, bukan harta bendanya, bukan cantik tampannya, tetapi keimanannya yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya. Manusia yang paling tinggi disisi Allah adalah manusia yang beriman. Jadi saya tidak boleh mider apalagi depresi dengan keadaan saya seperti ini karena Allah melihatnya dari tingkat keimanannya. Oleh karena itu, saya mengajak agar kita tidak saling mengolok-olok karena bisa jadi yang kita olok-olok lebih baik daripada kita. Saya berharap artikel ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk bisa menjalani kehidupan dengan niatan yang baik, tidak mudah menyerah dan putus asa, selalu sabar dalam menjalani kehidupan, ingat kepada Yang Maha Tinggi dan yang terpenting saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia. Kita hidup didunia ini harus selalu beribadah secara vertikal yang langsung kepada Allah dan horisontal dengan berbuat baik kepada sesama. Saya senantiasa untuk selalu menjalankan solat wajib lima waktu, membaca Al           Qur’an, berpuasa, solat Dhuha dan Hajat, dan sekarang ini, saya selalu bersilaturahmi ke berbagai sanak saudara, kerabat dan para kyai haji atau tokoh agama dengan tujuan mempererat tali silaturahmi diantara kita dan memohon doa restu semoga kuliah S2 Akuntansi saya dapat berjalan dengan sukses dan lancar, saya segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan saya dan saya segera dipertemukan dengan jodoh saya yang mau menerima saya apa adanya sehingga saya segera mendapatkan keturunan yang sholeh dan sholehan dan yang membahagiakan. Amin Ya Robbal Alamin....     
            Sebagian kebiasaan-kebiasan saya semoga dapat berguna dan bermanfaat untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari menuju kesuksesan disegala hal, misalnya:
1.        Saya biasanya jika akan ujian apapun selalu memohon doa restu kepada orang tua, saudara, guru, para ustad dan yang lain, walaupun hanya melalui SMS, contohnya: “Maaf bapak, saya mohon doa restu karena pada hari ini saya akan menempuh ujian mid semester teori akuntansi semoga saya selalu diberi kesuksesan dan kemudahan dalam mengerjakan dan mendapatkan hasil yang terbaik dan membahagiakan. Amin Ya Robbal Alamin. Sungkem dari Risma Wira Bharata”. Hampir semua SMS saya selalu dibalas oleh para penerima SMS dan saya yakin jika beliau tidak sempat membalas, saya berkeyakinan SMS saya pasti dibaca, proses membaca SMS itu doa sudah dipanjatkan.
2.        Saya biasanya cenderung memgugurkan kewajiban terlebih dahulu, contohnya jika saya ada tugas, biasanya saya selesaikan dahulu tugas itu kemudian baru saya dalami secara mendalam. Jika saya membaca pertama kali dibaca secara menyeluruh dahulu baru kemudian membaca yang kedua lebih cermat lagi dan seterusnya, biasanya 3 kali baca.
3.        Saya biasanya jika tidak dapat mengerjakan tugas sendiri, maka sering bertanya kepada orang lain yang kompeten dibidangnya. Saya berprinsip daripada saya menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bisa saya kerjakan, lebih baik bertanya kepada ahlinya.
4.        Saya biasanya membawa buku atau catatan kemanapun saya pergi untuk mendekatkan diri dengan buku dan jika ada waktu luang bisa dibaca dimanapun dan kapanpun.
5.        Saya biasanya selalu solat Hajat dan solat Dhuha setiap hari secara berurutan.
6.        Saya biasanya membaca Al Qur’an setiap hari walaupun hanya 1 ruku’.
7.        Saya biasanya bersilaturahmi kepada para sanak saudara, kerabat dan para Kyai Haji atau tokoh agama untuk mempererat tali silaturahmi dan meminta amalan doa sehari-hari.
8.        Saya biasanya mengamalkan doa : “ Allahumma Anjahni Fil Imthihan artinya Ya Allah berikanlah saya kelulusan dalam menghadapi ujian apapun” dari KH Bardan Usman.
9.        Saya biasanya mengamalkan doa : “ Allahumma Laa Sahla Illa Maa Ja’altahu Sahla, Wa Anta Taj’alul Hazna, Idzaa Syi’ta Sahla artinya Ya Allah, tiada kemudahan kecuali yang Engkau mudahkan dan bila Engkau kehendaki, kesulitan itu menjadi mudah” dari              Bapak H Untung Santoso, MA.
10.    Saya biasanya mengamalkan doa : “ Allahumma yassir umuronaa Wa Balligh Maqshidanaa Birohmatika Ya Arhama Raahimiin artinya Ya Allah, mudahkanlah urusan-urusan kami dan sukseskanlah cita-cita kami dengan rahmad-Mu Wahai Allah Yang Maha Penyayang” dari Bu Khasinah.
11.    Saya diberi pesan oleh KH Sholeh Muslim untuk memperbanyak mengamalkan kalimat : Iqtifar dan solawat nabi Muhammad SAW, dalam perjalanan saya selalu membacanya.
12.    Saya biasanya jika sudah merasa lelah, maka saya segera tidur daripada saya paksa, tetapi setelah bangun lalu melanjutkan lagi entah membaca atau mengerjakan tugas.
13.    Saya biasanya makan-makanan bergizi, minum vitamin dan susu madu secara seimbang dan rutin untuk menjaga kondisi kesehatan saya supaya tetap fit walaupun beraktivitas.
14.    Saya biasanya melakukan rekreasi walaupun mungkin hanya minum teh jahe diangkringan, jalan-jalan pagi atau sore, karaoke, lihat TV, mengobrol dengan orang lain.
15.    Dan yang terpenting seimbangkan usaha dan doa kepada Allah,Insya Allah akan terkabul  



             
  






         
































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar